Senin, 16 November 2009

Anak Ku Adalah Belahan Jiwa Ku

Meminjam istilah Charles L. Whitfield, M.D. (Healing The Child Within:1989), sejatinya jiwa anak-anak itu merupakan jiwa asli manusia yang kita sebut dengan berbagai istilah: The Real Self, The True Self, The Inner Core, dan lain-lain. Beberapa karakteristik yang menonjol dari jiwa anak-anak itu antara lain: loving, giving, communicating, accept self and others, spiritual, explorative, (free to grow), assertive, creative, atau emphatic. Intinya, dia baik sama dirinya, orang lain, dan alam sekitarnya. Dalam bahasa kita, jiwa anak-anak itu sering disebut fitrah.
Tetapi sayang, pada kenyataan nya kita dapatkan pada sebagian anak-anak kita jiwa- jiwa yang hampa tanpa makna bahkan lebih buruk lagi adalah jiwa yang terbelenggu... (Aku tak tahu persis sebagian besar atau sebagian kecil, hal itu tak penting bagi ku. Hanya saja yang kurasakan betapa miris hati ini demi melihat kenyataan ini).
Lagi-lagi orang tua di salahkan, lagi – lagi orang tua di hujat ” Dimana kah kau, ibu ? apa saja yang kau lakukan selama ini ?. Lagi – lagi ibu lah yang paling banyak mendapatkan kritikan pedas ketika ada ketidak- beresan yang terjadi pada anaknya.
Dari kaca mata psikologi, banyak masalah yang dialami anak-anak (jiwa yang hampa tadi )antara lain bersumber dari pola hubungan yang buruk antara orangtua. Salah satunya adalah apa yang secara istilah psikologi perkembangan di sebut dengan Mathernal Deprivation yaitu suatu sikap ”pengabaian” yang dilakukan ibu pada anaknya. Dalam hal ini ibu menelantarkan perannya sebagai “ibu” dikarenakan berbagai macam sebab dan alasan....
Menelantarkan perannya sebagai “ibu” sangat berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan anak. Mathernal Deprivation yang dilakukan ibu terhadap anaknya akan mengakibatkan ibu sangat jarang berinteraksi dengan anaknya melalui sentuhan hangat, gerakan lembut, kontak mata yang penuh kasih serta senyuman yang menyejukkan. Hal ini akan berdampak berkurangnya rasa kehangatan, keintiman, dan kedekatan yang seharusnya diterima oleh anak dari ibu. Rasa hangat, lembut, kasih, dan sejuk inilah yang sekarang dirasakan hilang dari jiwa anak-anak.
Tanpa disadari orang tua telah membelenggu jiwa anak sehingga kini yang dirasa adalah kehampaan dalam hubungan antara orang tua / ibu dan anak. Ketiadaan “rasa” diatas dari orangtua, sering mendorong anak membangun image bahwa dirinya mandiri dan mampu hidup tanpa bantuan siapa pun. Image itu berusaha keras ditampilkan untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya. Padahal, dalam dirinya tersimpan ketakutan, rasa kecewa, marah, sakit hati terhadap orangtua, sementara ia juga menyimpan persepsi yang buruk terhadap diri sendiri. Ia merasa tidak diperhatikan, merasa disingkirkan, merasa tidak berharga sehingga orangtua tidak mau mendekat padanya (dan, memang ia juga merasa tidak ingin didekati). Tanpa sadar semua perasaan itu diekspresikan melalui tingkah laku yang aneh-aneh, yang orang menyebutnya "nakal", "liar", "menyimpang". Mereka juga terlihat suka menuntut secara berlebihan, suka mencari perhatian dengan cara-cara yang negatif, sangat tergantung, tidak bisa memperhatikan orang lain (tapi menuntut perhatian untuk dirinya), sulit mencintai dan menerima cinta dari orang lain. Inilah yang kemudian disimpulkan oleh sebagian orang bahwa anak nya bermasalah.
Catatan ini bukan semata-mata diperuntukkan bagi ibu yang “bekerja” , yang karena berbagai hal dituntut paling bertanggung jawab. Kadangkala kita jumpai juga kehampaan jiwa menimpa anak yang ibu nya "tidak bekerja” . Jadi bukan di situ letak kesalahannya. Tetapi bagaimana kita semua sebagai “ibu” kembali mengoptimalkan peran kita sebagai “ibu” tentunya ibu yang dapat memberikan kehangatan, kelembutan, kasih sayang , dan kesejukan.
Beberapa ahli mengatakan yang penting bukanlah kuantitas waktu yang dihabiskan bersama anak, tapi kualitas waktu ketika sedang bersama anak. Apa yang dimaksud dengan waktu yang berkualitas? Dalam buku When Others care For Your Child (1987), waktu berkualitas adalah saat-saat dimana orangtua menghabiskan waktu bersama anak dengan fokus dan perhatian penuh pada anak dan masalah-masalah yang dialami anak. Saat-saat tersebut benar-benar tidak terbagi, hanya untuk anak dan orangtua. Ingat “ fokus pada anak” jadi bukan sambilan.
Bagi ibu yang “bekerja ” tidak sambil menerima telpon bisnis dari rekan kerja, sambil membicarakan masalah di kantor, ataupun membicarakan deadline yang harus dipenuhi. Sementara bagi ibu yang tidak “bekerja” tidak sambil masak, beres –beres rumah, atau malah sambil nonton sinetron atau ngerumpi. Bagi ibu yang “bekerja”, hal pertama yang sebaiknya dilakukan ketika sampai di rumah tentunya adalah menghampiri, memeluk dan mencium anak, bukannya menyalakan televisi atau langsung masuk kamar untuk istirahat. Optimalkanlah sisa waktu yang ada dengan melakukan kegiatan bersama anak (kegiatan bisa di request dari anak, apa yang mereka inginkan ). Sementara bagi ibu yang tidak “bekerja” tentunya peluang untuk memberikan kedekatan secara kuantitas lebih lapang, jadi berusahalah untuk mengoptimalkan dengan kualitas terbaik.
Dengan demikian anak akan bisa merasa betapa hangat kasih sayang ibunya. Jiwa mereka akan membenarkan keberadaan “ibu” nya. Jiwa yang akan selalu tersambung dengan jiwa kita sebagai orang tua / ibu. Sehingga kita bisa merasakan dan meresapi makna bahwa “ Anak ku Adalah Belahan Jiwa ku”.